SELAMAT DATANG DI BLOGGER "SYAINULLAH WAHANA" SEMOGA BERMANFAAT ---(TERIMA KASIH)---

Minggu, 03 Mei 2015

Takkan Ada Pemberdayaan Kekal dan Berkelanjutan di Pangkep Tanpa Melibatkan Perempuan

Oleh: Syainullah Wahana, S.Pi

Menulis untuk mengkisahkan perjuangan perempuan untuk melakukan kegiatan pemberdayaan dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya manusia.


Perempuan mengilhami sebuah pergerakan yang bekerja bersama dalam membangun sebuah desa atau wilayah, mengukir keindahan yang begitu khas dan mempesona di setiap pergerakan dan usaha – usahanya untuk dikenal dalam berbagai kehidupan di dunia. Berdampingan dengan kelompok laki-laki dengan begitu banyaknya permasalahan kualitas sumberdaya manusia. Penulis begitu sering mengamati keadaan wilayah pesisir yang begitu luas wilayahnya di Indonesia, pengamatan penulis yaitu salah satunya adalah perempuan di wilayah pesisir, mereka begitu semangat ketika diberi waktu untuk berbaur bersama kelompok untuk mengelolah sumberdaya pesisir diberbagai daerah karena mereka merasa perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan dalam kemiskinan.

Perempuan begitu semangat dalam mengontrol sumberdaya alam pesisir, yang salah satunya adalah rumput laut. Perempuan yang menjadi anggota kelompok sebagian besar adalah istri nelayan dan janda yang masuk dalam kategori rentan. Dengan mengelolah bantuan yang digulirkan dari pemerintah, mereka bisa melaksanakan sebagai peran produksi yang sangat baik. Kini dengan adanya modal bantuan maka ekonomi keluarga pun meningkat, dan berdampak positif untuk keberlangsungan kehidupan keluarga.

Perempuan sangat aktif dalam berbagai pelatihan pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir, mendorong mereka untuk lebih percaya diri berpendapat dan mengutarakan gagasannya, hasil dampak positifnya yaitu dimana perempuan bisa mengakses dan mengontrol sumber daya pesisir, sehingga mereka bisa mandiri dan lebih berdaya lagi.

Sampul Kabar Pesisir Januari 2015, Oxfam Area Indonesia Timur
Diusai permasalahan wilayah pesisir yang memberikan peran khusus terhadap perempuan didalamnya untuk bekerjasama menyelesaikan permasalahan wilayah sumberdaya pesisir, penulis kini bercerita sedikit mengenai apa yang telah dibaca pada sebuah majalah kabar pesisir yang menjelaskan seorang tokoh inpirasi perempuan yang berjuang menghidupkan lahan tidur untuk dapat menjadi produktif serta memberikan contoh hidup sehat dengan bercocok tanam sayuran organik bersama kelompok masyarakat, dia bernama Sitti Rahma, Ketua Kelompok Pita Aksi yang berkegiatan dalam budidaya tanaman organik di desa Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang, kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dikediamannya Siti Rahma setiap hari menikmati kegiatannya di pagi dan sore hari dengan menyiram tanaman organik di pekarangan rumahnya yang begitu cukup luas, yang disulap dengan berbagai aneka tanaman sehat seperti tomat, sawi, bayam, kangkung, seledri, kacang tungga, daun bawang, cabe rawit, cabe hijau, kacang tanah, dan juga tanaman obat keluarga. Tanaman itu disusun dengan begitu rapi sehingga pengunjung atau masyarakat yang tertarik untuk melihatnya dapat nyaman di lingkungan pekarangan rumah ibu Sitti Rahma. Ini adalah salah satu contoh wanita yang mempunyai hak untuk berekspresi di halaman rumahnya yang membuat perubahan ke hal yang positif dan baik bagi kehidupan keluarga sehat mereka. Menciptakan sebuah keindahan untuk orang lain dan bermanfaat baik untuk di contohi bagi seluruh perempuan Indonesia.



Sitti Rahma Sedang Bercocok Tanam, Publikasi Foto Kabar Pesisir Januari 2015, Oxfam Area Indonesia.


Beralih ke dunia pendidikan, penulis mendapatkan sebuah berita inspirasi dari seorang perempuan Indonesia yang bernama Syarifah, dia adalah seorang guru sekolah dan dapat dikatakan pejuang kelompok perempuan yang berada dilingkungannya. Begitu sangat sibuk menggerakkan beberapa perempuan, dia berkunjung di setiap rumah – rumah untuk bercerita dengan ibu – ibu rumah tangga untuk tidak hanya bergantung di pundak suami, mengajari orang – orang yang bahkan tak kenal huruf dan angka untuk belajar berorganisasi. Kesehariannya Syarifah mengajar di sebuah madrasah swasta, berpenghasilan cukup yang hanya sebagai guru honorer, sedangkan dalam aktifitasnya di rumah Syarifah membantu suaminya untuk menyiapkan jaring alat tangkap kepiting dan udang. Kegelisahannya yang kini begitu berbaur dengan semangatnya untuk melakukan perubahan dalam meningkatkan taraf hidupnya, membuat Syarifah terpilih sebagai ketua kelompok organisasi warga dalam usaha perbaikan ekonomi masyarakat dusun Kekean, Tamarupa, Mandalle, Pangkep. Dengan usahanya itu yang berkeliling untuk mengajak perempuan maka terbentuklah kelompok usaha rumput laut “Kalaroang”. Di awali dengan dasar – dasar berorganisasi hingga ke praktik – praktik pengembangan usaha, maka dengan kelompok yang didirikannya bersama masyarakat juga dengan lembaga masyarakat swadaya yang membantuannya kini sudah mandiri dan berjalan dengan baik yang berhasil meningkatkan pendapatan rumah tangga anggotanya sebesar 1-2 juta per bulan.    

Syarifah Bersama Kelompok Pemberdayaan Perempuan Pangkep, Kabar Pesisir Januari 2015, Oxfam Area Indonesia Timur

Belajar dari beberapa kelompok Perempuan Inspirasi di Pangkep, dalam hidup dan kesehariannya dengan apa yang bisa diberikan demi lingkungannya. Penulis mengajak seluruh perempuan Indonesia harus tetap berekspresi, menjaga nilai-nilai berbudaya, moral, memiliki hati bersih dengan pikiran – pikiran positif dibenaknya dan totalitas yang semaksimal mungkin untuk terus berupaya menjadi lebih baik lagi. Berharap dengan perubahan buat kita ataupun untuk generasi wanita – wanita Indonesia kedepannya.

Sumber Ringkasan Tulisan:
Oxfam. 2015. Kabar Pesisir “Restorasi Penghidupan Pesisir”. Buletin Area Indonesia Timur. Makassar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar