SELAMAT DATANG DI BLOGGER "SYAINULLAH WAHANA" SEMOGA BERMANFAAT ---(TERIMA KASIH)---

Minggu, 08 Oktober 2017

Kisah seorang Prof. Ahsin, Merintis Ornament Anemon Laut Untuk Pasar Global (Ekspor)


Perjuangan dan roadmap penelitian panjang tentang anemon laut sejak tahun 1998 sampai 2017, mengantarkan Prof Ahsin merintis bisnis anemon laut untuk memasok pasar eksport lewat Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Anemon laut Ornamen yang didanai Kemenristek Dikti Tahun 2017.

Kesungguhan bapak Prof Ahsin di bidang riset anemon laut yang dilakukan, sudah tidak diragukan lagi. Beliau secara konsisten melakukan riset anemon laut dari berbagai aspek dengan roadmap yang jelas. Riset Magister (S2) tahun 1998 dan Doktor (S3) tahun 2009 semuanya dengan topic anemon laut. Sayapun sebagai penulis An. Syainullah Wahana sebagai alumni unhas program pascasarjana juga hampir mengikuti jejak beliau bapak Prof Ahsin. Dimana penelitian Strata satu (S1) sampai Riset Master (S2) telah konsisten melakukan penelitian dalam bidang riset anemon laut di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan.

Prof Ahsin telah memperlihatkan temuan dan keahliannya dalam bidang anemon laut. berbagai hibah kompetitif nasional telah bilau dapatkan semuanya dengan topic anemon laut: 
http://lpm.unlam.ac.id

Tahun 2003 - 2005: Bilau telah berhasil mendapatkan hibah bersaing; Tahun 2008 mendapatkan hibah Insintif Riset Dasar; Tahun 2009, 2010 dan 2011 mendapatkan hibah penelitian fundamental; Tahun 2013, 2014 dan 2015 mendapatkan hibah penelitian Strategis Nasional (Stranas); Serta mendapatkan hibah Insentif Riset Sinas; Berikutnya, tahun 2016, 2017 mendapatkan hibah pengabdian.

Atas prestasi penelitian yang panjang maka Prof Ahsin mencoba melakukan hilirisasi riset yang lebih bersifat aplikatif. Beliau mencoba mengaplikasikan teknologi yang telah didapatkan untuk dapat diterapkan di masyarakat. Lewat Program PPUPIK Kemenristek Dikti ini beliau memulainya. Program ini merupakan salah satu Program Pengabdian Masyarakat yang ditawarkan oleh Kemenristek Dikti secara kompetitif dan beliau keluar sebagai salah satu pemenangnya dan satu-satunya pemenang yang didapatkan oleh Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Lewat PPUPIK ini, Prof Ahsin melakukan kegiatan budidaya anemon kemudian memasarkannya ke pasar global (Ekspor). Dalam pelaksanaan beliau menggandeng dan melibatkan secara aktif mahasiswa Ilmu Kelautan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan (HIMAGENIKA) ULM. Pelibatan mahasiswa ini menjadi prioritas utama Prof Ahsin karena Program ini berbasis kampus untuk menumbuhkan jiwa wirausaha kepada mahasiswa terutama wirausaha pada bidang kelautan.      
Mengingat anemon laut ini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi di pasaran internasional maka  pemilihan komoditi anemon ini menjadi sangat urgen dan relevan. Urgen karena populasi anemon di alam sudah sangat terdegradasi akibat tingginya intensitas penangkapan untuk memenuhi pasar ekspor. Sebagai contoh jenis anemon merah (red carpet anemone) dapat mencapai Rp. 3.500.000 / Ekor. Jenis-jenisnya bervariasi mulai dari Rp. 500.000 hingga Rp. 3.000.000 / Ekor. Relevan karena pakar anemon laut telah dimiliki oleh ULM yaitu Prof Ahsin telah berhasil menemukan teknologi reproduksi aseksual secara fragmentasi dan saat ini telah didaftarkan patennya di Kemenkumhan RI tertanggal 16 Desember 2016 dengan nomor P00201608642.

Sebagai implementasi kegiatan PPUPIK anemon laut ornamen, maka pada tahun 2017, Prof Ahsin telah membangun 2 pusat kegiatan, yaitu Pusat Budidaya Anemon Laut di Desa Teluk Taming yang berjarak 450 km dari kampus Ilmu Kelautan ULM dan Pusat Pemasaran di kampus Ilmu Kelautan di Banjar Baru dalam bentuk Unit Usaha Mahasiswa Ilmu Kelautan. Kultur anemon dilakukan di Desa Teluk Tamiang, pemasarannya dilakukan di Unit Usaha Mahasiswa Ilmu Kelautan di Banjar Baru. Saat ini produk telah dipasarkan secara lokal, antar pulau dan ke eksportir Makassar. Berbagai inovasi pemasaran sedang digarap. Saat ini sedang menggarap pemasaran online dan merintis pasar ekspor. Bagi yang berminat dengan produk anemon laut dapat mengunjungi Stand Pemasaran Anemon Laut Ornamen yang beralamatkan Kampus Ilmu Kelautan, Jl. A. Yani Km 36 Banjar Baru Kalimantan Selatan, HP 08115026065, atau Email: ppupik@unlam.ac.id  

 


 

Foto: Kunjungan Stand Pemasaran Anemon Laut Ornamen 
yang dirintis oleh bapak Prof Ahsin

Selasa, 14 Maret 2017

TAMAN ANEMON LAUT TEKNOLOGI MARIKULTUR BERBASIS EKOSISTEM



Pidato Bapak Prof Ahsin Rifai, sebagai Guru Besar di Bidang Ilmu Budidaya Laut pada Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Lambung Mangkurat 


Alhamdulillaahirabbil'alamiin, washshalaatu wassalaamu 'ala na-biyina Muhammadin wa'ala alihi wa-ashshabihi ajma'iin. Pertama-tama marilah kita mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karuniaNya sehingga kita dapat berhadir pada upacara rapat terbuka Senat Universitas Lambung Mangkurat dalam rangka pidato dan pengukuhan saya sebagai Guru Besar di Bidang Ilmu Budidaya Laut pada Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Lambung Mangkurat. Sholawat dan salam tak lupa saya haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, nabi akhir jaman, pembawa risalah kebanaran. Juga kepada para keluarga dan sahabatnya, para pengikutnya dari dulu sekarang hingga akhir jaman. Penghargaan dan apresiasi yang tinggi saya haturkan pula kepada Bapak dan Ibu serta hadirin sekalian telah berkenan hadir melowongkan waktu yang sangat berharga untuk menghadiri acara pengukuhan ini. Semoga Allah memberikan pahala yang berlipat ganda. Amin YRA.


Berbagai pertimbangan yang melatar-belakangi terpilihnya judul ini adalah sebagai berikut:
        Pertama, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengangkat saya sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu budidaya laut yang diharapkan dapat memberi kontribusi pemikiran terhadap pengembangan dan pembangunan sektor budidaya laut di Indonesia.
        Kedua, latar belakang pendidikan saya mulai strata S1, S2, dan S3 adalah dalam bidang budidaya laut. Sudah sewajarnya saya memberikan pemikiran-pemikiran terkait dengan teknologi budidaya laut (marikultur)  yang inovatif dan bersifat solutif.
        Ketiga, pekerjaan saya sebagai salah satu dosen di Fakultas Perikanan dan Kelautan Unlam, selama 25 tahun dan 9 tahun terakhir ber home base di Program Studi Ilmu Kelautan berkewajiban untuk terus meningkat kompetensi diri sehingga mampu mewujudkan misi tri dharma perguruan tinggi yaitu bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang bermutu.
Keempat, Firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 14: “Dan dialah Allah SWT, yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar (ikan) dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai dan kamu melihat bahtera berlayar kepada-Nya dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. Firman ini sangat jelas menyuruh manusia memanfaatkan segala potensi yang di ada laut dengan mengelola dengan secara baik dan benar.  

Hadirin yang Saya Hormati,


Pendahuluan

Anemon laut merupakan salah satu jenis karang dari filum Cnidaria.  Karang dan anemon laut adalah anggota taksonomi kelas yang sama yaitu Anthozoa. Perbedaannya adalah karang mengha-silkan kerangka luar dari kalsium karbonat, sedangkan anemon tidak (Nybakken, 1992). Menurut Fautin and Allen (1997), anemon laut adalah binatang invertebrata atau binatang  yang  tidak  memiliki  tulang  belakang.   

Anemon laut, selain memiliki nilai ekonomis juga memiliki nilai ekologis. Anemon laut merupakan inang berbagai anemonfishes (Fautin and Allen 1997; Richardson 1999; Astakhov 2002; Randall and Fautin 2002; dan Shimek 2006). Tidak kurang 51 spesies ikan melakukan simbiosis fakultatif dengan anemon laut, khususnya di perairan tropis (Arvedlund et al., 2006). Selanjutnya menurut Allen (1974), anemon menjadi tempat hidup bersama bagi 26 jenis ikan hias Amphiprion termasuk 1 jenis Premas biaculeatus.  Anemon laut dan ikan Amphiprion akan hidup dan tumbuh dengan baik apabila hidup bersama-sama, tetapi apabila hidup sendiri-sendiri tanpa simbiosis mutualisme maka salah satu atau keduanya akan terganggu pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya (Allen, 1975 dan Randall et.al., 1990).  

Selain anemonfishes, pada sel-sel endodermis anemon laut melimpah pula sel-sel alga zooxanthellae sebagai simbion intra-selluler (Rinkevick 1989; Muscatine and Wels 1992; dan Fautin and Allen 1997). Densitas zooxanthellae anemon laut Stichodactyla gigantea mencapai 11,46 x 106 sel/cm2 (Niartiningsih 2001). Kehadiran alga zooxanthellae ini telah memberikan andil yang besar dalam sistem daur energi anemon, lingkungannya, dan biota lainnya yang berasosiasi. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara alga zooxanthellae sebagai simbion dengan inangnya bersifat mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan antara keduanya. Menurut Taylor (1969), inang memberikan perlindungan, beberapa metabolisme seperti karbon dioksida, dan beberapa nutrisi kepada alga. Alga memanfaatkan produk-produk ekskresi inang seperti fosfor esensial, sulfur, senyawa nitrogen dari inangnya (McLaughlin et al., 1964). Alga zooxanthellae yang hidup bersimbiosis dengan anemon memiliki kemampuan untuk melakukan aktifitas fotosintesis dan menghasilkan nutrisi karbon yang selanjutnya disumbangkan ke inang dan lingkungan perairan di sekitarnya (Taylor 1969 dan Muscatine et al., 1981). Translokasi karbon merupakan sumber energi utama untuk inang (Streamer et al., 1993) dan selanjutnya digunakan untuk membentuk glukosa, gliserol, asam amino dan kemungkinan lemak (Muscatine 1967; Muscatine et al., 1984; Sutton and Hoegh-Guldberg 1990). Alga zooxanthellae inilah yang diduga memberikan kontribusi terhadap fitness inang-inangnya dan produktivitas primer terhadap komunitas di sekitarnya. Dengan demikian sangat jelas bahwa kehadiran alga zooxanthellae yang hidup bersimbiosis pada anemon laut dan karang sangat penting mengingat kondisi lingkungan perairan laut miskin nutrient.    

Perkembangan jumlah penduduk yang sangat cepat serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan pemanfaatan anemon laut terus meningkat terutama untuk memenuhi permintaan pasar ikan hias domestik dan ekspor. Sebagai contoh, di Sulawesi Selatan menurut Balai Besar Karantina Ikan Sulawesi Selatan, data lalu lintas domestik dan ekspor anemon laut pada tahun 2002 hanya mencapai 49.655 ekor dan pada tahun 2006 telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan hingga mencapai 84.534 ekor. Kondisi serupa diduga terjadi pula di beberapa propinsi lainnya di Indonesia seperti Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. 

Hingga saat ini eksploitasi anemon masih mengandalkan usaha penangkapan di alam dan belum ada hasil usaha budidaya. Jika kondisi ini dibiarkan maka suatu saat populasi akan terancam punah.  Oleh karena itu, untuk mendapatkan pemanfaatan yang berkelanjutan, kelestarian sumberdaya anemon perlu dijaga dan dipertahankan melalui suatu kebijaksanaan pengelolaan yang tepat, diantaranya melalui upaya restocking dan marikultur.  Upaya tersebut tentunya membutuhkan benih-benih anemon dalam jumlah besar dan berkualitas yang bersumber dari hasil teknologi pembenihan dan bukan dari hasil penangkapan di alam. 

Anemon hidup di dasar laut menempel pada benda keras, pecahan karang, dan pasir. Ada pula yang sedikit membenamkan bagian tubuhnya ke dalam dasar tanah yang agak berlumpur. Umumnya anemon dijumpai pada daerah terumbu karang yang kurang subur dan dangkal, di goa atau di lereng terumbu. Namun ada juga yang hidup di tepian padang lamun (Dunn, 1981; Nuracmad dan Sumadiyo, 1992; Nurachmad, 1993). Menurut Fautin and Allen (1997), anemon laut hidup menempel pada objek-objek keras, umumnya seperti dasar laut atau tertutup sedimen. Anemon laut hidup melekat pada objek-objek yang keras di perairan laut, biasanya di dasar perairan, bebatuan, atau terumbu karang. Verwey (1930) dan Dunn (1981) mengemukakan bahwa, habitat anemon jenis  Stichodactyla gigantea adalah di daerah tenang dan berpasir seperti laguna-laguna karang dan tepian padang lamun.  

Berdasarkan uraian di atas, maka anemon laut bukanlah pesaing hewan karang karena space hidupnya berbeda dengan hewan karang. Anemon laut tidak tumbuh pada karang-karang hidup melainkan hidup pada karang-karang mati atau pada substrat keras di dasar peraian. Habitat tumbuh anemon ini menjadi kajian yang sangat menarik untuk dikembangkan menjadi biota marikultur yang mampu memanfaatkan kawasan-kawasan terumbu karang yang telah mengalami kerusakan dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi hingga tahun 2015, status terumbu karang di Indonesia hanya 5% sangat baik, 27,01% baik, 37,97% buruk, dan 30,02% jelek (Suharsono, 2015). Berdasarkan data tersebut hanya 32,01% terumbu karang yang kondisi baik dan sangat baik. Sisanya 67,99% telah mengalami kerusakan dengan kategori buruk hingga jelek. Dengan demikian, jika luasan terumbu karang di Indonesia sekitar 60.000 km2 maka hamparan atau kawasan terumbu karang yang rusak atau mengalami kematian mencapai 40.794 km2 (Suharsono, 1998). Kawasan ini menjadi kawasan mati, miskin nutrient, miskin kehadiran biota-biota asosiasi, tidak produktif dan akan menjadi kawasan “terlantar”. 

Upaya perbaikan terhadap kawasan terumbu karang yang mengalami kerusakan ini telah dilakukan oleh pemerintah melalui kegiatan  replanting dan terumbu karang buatan. Namun upaya ini membutuhkan waktu yang relative lama karena pertumbuhan karang sangat lambat. Untuk karang massive pertumbuhannya hanya 0,5-2 cm per tahun, sedangkan karang acropora pertumbuhannya mencapai 3-5 cm per tahun. Oleh karena itu perlu ada upaya lain agar kawasan terumbu karang non produktif ini dapat menjadi produktif bersamaan dengan upaya rehabitasi terumbu karang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan taman anemon laut pada kawasan terumbu karang non produktif. Kehadiran anemon laut memiliki beberapa keuntungan: (1) mengisi space kawasan terumbu karang mati dan tidak produktif, (2) mengundang kehadiran ikan-ikan asosiasi terutama kelompok ikan amphiprion yang memiliki nilai ekonomis tinggi, (3) meningkatkan produktivitas primer perairan dengan tingginya simbion alga zooxanthellae yang hidup pada polip anemon, (4) anemon laut sendiri merupakan biota yang bernilai eknomis tinggi karena harganya di pasaran nasional dan internasional sangat tinggi. Teknologi taman anemon ini diharapkan dapat menjadi aktivitas marikultur baru di kawasan pesisir berbasis perbaikan ekosistem terumbu karang. Teknologi ini diharapkan pula dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir untuk penguatan ekonomi nasional.


Taman Anemon Laut 

Taman anemon laut (Sea Anemones Garden) merupakan istilah baru dalam teknologi marikultur di Indonesia bahkan di dunia. Taman anemon adalah sebuah teknologi marikultur yang dikembangkan oleh penulis sebagai hasil dari serangkaian penelitian yang panjang selama 18 tahun mulai 1998 sampai sekarang (2016). Hasil telusur paten di laman Ditjen HKI-KemenkumHAM RI (www.dgip.go.id), Kantor Paten dan Merek Amerika Serikat (www.uspto.gov), Kantor Paten Jepang (www.jpo.go.jp), Kantor Paten Eropa (http://ep.espa cenet.com), dan World Intellectual Property Organization WIPO) yang menyediakan database paten dengan nama Patent Scope® (www.wipo.int/pctdb/en) belum menemukan paten secara khusus mengklaim tentang teknologi taman anemon laut sebagai teknologi marikultur di kawasan terumbu karang. Namun demikian beberapa paten terkait dengan anemon dapat ditemukan pada laman  https://www.google.co.id/patents/CN102550452B?cl=en&dq=artificial+asexual+reproduction+of+sea+anemone&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwjj8M9uorQAhVKPY8KHd8HAbkQ6AEIMzAD yang mematenkan metode budidaya induk anemon dengan nomor CN 102550452 B yang dipubilkasikan pada 11 September 2013. Paten ini meliputi pengumpulan induk yang sehat, kuat, tidak ada kerusakan, tentakel lengkap, kaki anemon utuh, penempatan induk dalam sistem budidaya hingga matang telur, ejakulasi, penetasatan, pengumpulan, dan pemindahan benih ke kolam benih. Selanjutnya berdasarkan laman https://www.google.co.id/patents/EP2229050A2?cl=en&dq= artificial+asexual+reproduction+of+sea+anemone&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwjCzrKWwIrQAhXFp48KHU7RDg8Q6AEISjAG ditemukan paten komposisi terbaru untuk mengendalikan penyakit anemon laut dengan nomor EP 2229050 A2 yang dipublikasikan pada 22 September 2010. Paten ini berkaitan dengan komposisi yang ditingkatkan untuk mengendalikan penyakit anemon laut. Paten lainnya berhubungan dengan alat untuk mengumpulkan sampel anemon laut hidup dengan nomor paten CN 203985660 U dan dipublikasikan 10 Desember 2014 pada laman https://www.google. co.id/patents/CN203985-660U?cl=en&dq=sea+anemones&hl=en&sa =X&sqi=2&pjf=1&ved=0ahUKEwjE-revy4vQAhXFgI8KHQ7nCsQQ6 AEINDAD. Paten ini berhubungan dengan alat pengumpulan untuk sampel anemon laut hidup. Alat pengumpul terdiri dari batang penghubung, pegangan dan pisau sekop, dimana pegangan vertikal terhubung dengan batang penghubung; pegangan dan batang penghubung dalam bentuk T; pisau sekop diatur di ujung lain dari batang penghubung.  Paten lainnya adalah berhubungan makanan anemon laut instant dan metode pengolahan serta derivatnya dengan nomor paten CN 102948815 B yang dipublikasikan 23 April 2014 pada laman https://www.google.co.id/patents/CN102948815B?cl= en&dq=sea+anemones&hl=en&sa=X&sqi=2&pjf=1&ved=0ahUKEwjE-revy4vQA-hXFgI8KHQ7nCsQQ6AEIRjAF

Selanjutnya ditemukan pula paten metode dan campuran pembunuh anemon untuk akuarium dengan nomor US 7179478 B2 yang dipublikasikan 20 Februari 2007 pada laman https:// www.google.co.id/patents/US7179478?dq=sea+ anemones&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiM7--9zYvQAhWMRI8KHU b1BJI4ChDoAQg9MAQ

Taman anemon laut adalah suatu teknologi marikultur atau budidaya laut yang menggunakan biota anemon laut untuk dipelihara dalam sebuah hamparan atau kawasan terumbu karang. Prinsip dasar marikultur berkelanjutan adalah dalam proses kultur sebaiknya tidak menggunakan benih alami karena akan berdampak terhadap kelestarian. Prinsip lainnya adalah menggunakan areal kultur yang tidak berkonflik, murah, dan sesuai dengan habitat tumbuh yang dihajatkan biota yang dikultur. Memperhatikan prinsip dasar ini maka untuk mengembangkan teknologi marikultur anemon harus memiliki sumber benih dari hasil penangkaran bukan dari hasil penangkapan di alam. Oleh karena itu pengembangan penangkaran benih anemon menjadi sangat penting. Penelitian tentang produksi benih anemon laut di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1998 sampai sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis anemon laut dapat diproduksi dengan teknik reproduksi asesksual secara artifisial (Gambar 1). Hasil penelitian menunjukkan sintasan benih hasil teknologi mencapai 100% dan pertumbuhan 70 - 127% selama 60 hari kultur dengan syarat-syarat dan prosedur kultur tertentu (Rifa’i dan Kudsiah, 1997; Rifa’i dkk., 2008; Rifa’i, 2011; Rifa’i, 2012; Rifai dkk., 2013a; Rifai dkk., 2013b; Rifai dkk., 2014; Rifai dkk., 2015; Rifa’i, 2016; dan Rifa’i et al., 2016). Teknologi produksi benih anemon ini pada tahun 2016 telah diajukan patennya ke Ditjen HKI-Kemenkum HAM RI dengan judul “Reproduksi Aseksual Anemon Laut secara Artifisial untuk Produksi Benih”.
 



Selasa, 13 Desember 2016

Ekowisata Pendidikan Lingkungan Dan Program Kunjungan Mahasiswa STIP YAPI Bone di PPLH Puntondo, Takalar



Salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya lokal yang optimal adalah dengan mengembangkan suatu kawasan yang berpotensi menjadi Ekowisata. Dalam hal ini LSM, pemerintah, swasta, dan masyarakat, mahasiswa dapat bersinergi dalam mengupayakan terciptanya suatu kawasan lingkungan yang bisa dijadikan suatu objek pariwisata berwawasan pendidikan lingkungan. Ungkap, salah satu mahasiswi STIP YAPI Bone bernama Irma Amalya dimana setelah memasuki gerbang PPLH Puntondo, tandasnya bahwa perjalanan di tempat wisata alam yang memiliki konsep ekowisata seperti ini, secara tidak langsung menyadarkan kita bahwa begitu pentingnya kecintaan lingkungan dengan kegiatan konservasi pelestarian alam. Berjalan memasuki gerbang sambil senda gurau dengan teman-teman kelompok praktek terpadunya mahasiswa(i) STIP YAPI Bone yaitu Muh. Yunus, Riska Hardianti, Mirnasari, Asrianti, Sarnita, Asriani. Mereka sedang sambil berdiskusi santai mengenai pergeseran konsep kepariwisataan dunia ke model ekowisata yang disebabkan adanya kejenuhan wisatawan untuk mengunjungi obyek wisata buatan. Dimana sebaiknya wisata yang berkelanjutan adalah wisata yang dapat dipandang sebagai suatu langkah untuk mengelola seluruh sumber daya yang secara sosial dan ekonomi dapat direalisasikan dengan melakukan langkah taktis dalam memelihara integritas budaya, proses-proses ekologi dasar, keragaman hayati, dan unsur-unsur pendukung seperti infrastruktur dan jasa lingkungannya dengan tanpa merusak ekosistem yang ada.             




Kunjungan Mahasiswa STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian) YAPI Bone, Program Studi Agrobisnis Perikanan.
Mendapatkan perhatian dan jamuan hangat oleh staff dan ketua PPLH Puntondo yang sekarang dijabat oleh bapak Budi Paranggeni, beliau memberikan materi mengenai pendidikan lingkungan yang begitu lugas, semangat dan mengajak kita bahwa betapa pentingnya melestarikan lingkungan untuk menjaga suatu kestabilan ekosistem yang sudah ada. Ungkapnya, bahwa salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan konservasi suatu kawasan sehingga terciptanya lingkungan yang aman dan asri untuk kehidupan manusia pada masa-masa yang akan datang. 




Kegiatan kunjungan mahasiswa STIP YAPI Bone ke PPLH Puntondo, Takalar bukan saja untuk datang menghadiri, melihat dan menikmati suasana keindahan dan keharmonisan alam dengan manusia di kawasan tersebut, namun mereka sebelumnya telah dibekali oleh beberapa teori-teori di bangku kuliah yang nantinya mereka bawa ke PPLH Puntondo untuk mengaplikasikan ilmunya yang telah diajarkan di kampus yaitu melakukan kegiatan praktek lapang terpadu mahasiswa(i) dengan tema program Konservasi Ekosistem Laut Pesisir Puntondo. Ketua kampus STIP YAPI Bone Ibu Ir. Andi Besse Dahliana, MP. Dimana dalam sela waktu yang diberikan oleh panitia Program PPLH Puntondo untuk mengutarakan beberapa kesan pesan pada saat acara pertama diselenggarakan. Ungkapnya, bahwa sangat berterima kasih karena mahasiwa(i) STIP YAPI Bone dapat diterima dengan baik oleh pihak PPLH Puntondo atas kunjungan untuk mengikuti dan kerjasama program pendidikan Konservasi Ekosistem Laut Pesisir Puntondo, dimana sangat menjanjikan adanya pengetahuan lebih untuk masa depan bagi mahasiswa(i) STIP YAPI Bone, yang nantinya setelah menyelesaikan Strata 1 (Satu) pada kampus STIP YAPI Bone. Diharapkan agar mereka bisa mendapatkan pengalaman berwirausaha dalam bidang Agrobisnis Perikanan dan yang paling terpenting bisa menjaga lingkungan untuk selalu tetap lestari bagi masa depan dan keberlanjutan sumberdaya alam kita di Indonesia.    

Ada beberapa agenda kegiatan Mahasiswa STIP YAPI Bone waktu selama 2 hari di PPLH Puntondo, Takalar. Mulai dari tanggal 18 sampai 19 November 2016, mahasiswa dibekali materi, kegiatan pengamatan, dan pendataan langsung di lapangan pada kawasan konservasi PPLH Puntondo. Kawasan PPLH Puntondo memiliki Zona Laut Pesisir yang cukup luas dengan program dan kegiatan yang disusun secara terpadu dimana mahasiswa(i) diajak secara langsung mengenal berbagai hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup juga sekaligus dapat menikmati dan menyatu dengan suasana alam pedesaan yang tenang dan damai, tak jauh dari tepian pesisir pantai terletak dipesisir Teluk Laikang, tepatnya Dusun Puntondo, Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. 





Sejak terbentuknya PPLH Puntondo pada tanggal 15 Oktober 2001 – Sekarang memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, komunitas para pecinta lingkungan, pelajar dan pendidik untuk bersama peduli terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi begitu cepat dan keberadaannya tidak lepas dari peran serta dukungan beberapa pihak terkait. Sebagaimana visi yang ingin dicapai oleh PPLH Puntondo adalah terwujudnya masyarakat yang peduli dan sadar terhadap lingkungan hidup untuk mencapai keharmonisan. Sedangkan misinya adalah menjadi lembaga swadaya masyarakat yang mandiri dan independen, mendorong dan mengajak masyarakat untuk melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup melalui pendidikan. Salah satu mahasiswa STIP YAPI Bone bernama A. Darmawan, dimana setelah menjalankan program konservasi tersebut mengungkapkan bahwa lingkup kegiatan yang diusulkan di PPLH Puntondo, Takalar adalah konservasi sumberdaya pesisir dan laut yang bersifat strategis berdasarkan potensi dan identifikasi masalah masyarakat serta memiliki roadmap  yang jelas yang menggambarkan partisipasi masyarakat, perguruan yang seperti tinggi STIP YAPI Bone, pemerintah daerah dan yayasan PPLH puntondo. Harapannya untuk selalu ikut serta dalam mensukseskan program pelestarian dimana kegiatan yang dilakukan juga menjamin terwujudnya program berkelanjutan. 

Beberapa hasil pengamatan dari beberapa mahasiswa(i) STIP YAPI Bone pada saat praktek lapang di PPLH Puntondo mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan dalam melihat kondisi usaha petani masyarakat Puntondo. Mahasiswa adalah luaran dari sistem pendidikan nasional yang akan menjadi penggerak bangsa di masa depan. Oleh karena itu, salah satu indikator kemajuan suatu bangsa dapat di ukur dari kualitas mahasiswanya saat ini. Untuk soft skills mahasiswa dapat dikembangkan melalui program pendidikan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat dengan kemajuan pendidikan lingkungan atau praktek lapang yang diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli dan berkontribusi kepada masyarakat dengan terbangunnya mahasiswa kreatif, mandiri, berwirausaha, peduli lingkungan dan sejahtera dalam hal keberlanjutan sumberdaya alam.

Disampaikan oleh mahasiswi bernama Widyawati Masyhur yaitu salah satu ketua kelompok praktek lapang terpadu. Ungkapnya, bahwa sekitar 15.000 hektare pesisir laut di empat Kecamatan yakni Mangarabombang, Mappakasunggu, Sanrobone dan Galesong Utara menjadi pusat budidaya komoditas unggulan daerah ini, namun potensi itu baru 5.000 hektare yang diolah nelayan setempat sebagai mata pencaharian dan tumpuan harapan ekonomi mereka. Awal mula, rumput laut tidak diminati nelayan setempat, namun setelah mata dagangan tersebut dinilai memiliki nilai ekonomi lebih baik dibandingkan menjadi nelayan tangkap di laut dalam, maka mereka ramai-ramai membudidayakannya di pesisir pantai. Setelah mencoba dan ternyata berhasil serta lebih menjanjikan meningkatkan ekonomi keluarga, maka profesi sebagai nelayan tangkap secara perlahan mereka tinggalkan dan fokus pada budidaya rumput laut. Selanjutnya menjelaskan bahwa hasil budidaya rumput laut cukup lumayan untuk menambahkan pundi-pundi keuangan keluarga, hanya dalam jangka waktu tiga bulan bibit yang ditanam sudah dapat dipanen, hanya perlu modal biaya pengadaan peralatan untuk pembibitan. Tandasnya, bahwa Rumput laut jenis Eucheuma (Lawi-lawi) lebih diminati pembudidaya karena lebih mudah dan bisa dijual dalam keadaan basah, berbeda dengan jenis Glacilaria ataupun Cotonii yang umumnya dijual dalam bentuk kering.

PPLH Puntondo merupakan kawasan yang patut dijadikan sebagai percontohan bukan hanya sebagai daerah lingkungan hidup tetapi juga sebagai kawasan konservasi. Upaya konservasi yang PPLH Puntondo lakukan berupa menjaga kelestarian dengan cara merehabilitasi ekosistem yang dianggap telah rusak dan perlu diperbaiki.  

https://lppmstipyapibone.blogspot.co.id/