SELAMAT DATANG DI BLOGGER "SYAINULLAH WAHANA" SEMOGA BERMANFAAT ---(TERIMA KASIH)---

Kamis, 14 Juli 2016

AgFor Bekerja Sama dengan Yayasan BaKTI Mengadakan Kegiatan Bengkel Komunikasi 'Saya Jurnalis Warga!'

Oleh: Syainullah Wahana, S.Pi. M.Si



Seruan informasi dari BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) dalam Program AgFor Sulawesi Bekerja sama dengan Yayasan BaKTI mengadakan kegiatan pada tangga 19 – 20 Juli 2016 bertema Bengkel Komunikasi 'Saya Jurnalis Warga!' untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan kampanye melalui sosial media terutama bagi para praktisi Komunikasi Pembangunan



Sumber Gambar: Media BaKTI



Saya sangat tertarik dengan informasi ini karena saya sangat menyukai pekerjaan menulis, berharap banyak belajar dari kegiatan jurnalistik untuk mengekspresikan kata – kata yang bermanfaat bagi pembaca. Keseringan dalam menulis membuat saya terus berpikir dan banyak belajar memahami kata sedikit demi sedikit, serta membuat seorang pembaca tidak bosan atau berhenti membaca dalam memahami rangkaian kata – kata yang saya tulis. Perjalanan disetiap kehidupan yang saya lalui dalam setiap hari seringkali saya menuangkannya dalam bentuk selembaran kertas buku tulis ataupun Medsos (Media sosial) yang kini semakin berkembang hingga masa modern saat ini. Ada beberapa Medsos yang dimana sebagai wadah saya selalu menuangkan pengalaman hidup dalam bentuk tulisan, boleh dikata sudah sangat sering digunakan oleh para jurnalistik atau warga umum yang rajin menulis, seperti Kompasiana dan Blogger. Adapun kisah  perjalanan saya atau aktifitas sehari – hari, sering terbiasa mengupdate pada Medsos Facebook, Instagram, Google+, Youtube, Twitter, serta linkedin.

Saya berharap menggunakan Medsos tersebut dapat memberikan semangat jurnalistik terhadap warga yang membaca tulisan pada Medsos saya, mungkin dengan update-an tulisan kata – kata atau foto aktifitas saya selalu memberikan hal positif atau wawasan baru kepada teman Medsos dunia maya dalam menulis. Keseriusan saya untuk mengikuti kegiatan AgFor Sulawesi bekerja sama dengan BaKTI mengadakan Bengkel Komunikasi ‘Saya Jurnalis Warga!’ yaitu berniat, jika memang nantinya diikutsertakan pada kegiatan tersebut maka saya berharap dapat diberikan banyak pelajaran berharga, khususnya dalam dunia jurnalistik. Semoga dengan kegiatan tersebut membuat tulisan lebih terarah lagi dan terstruktur dengan baik, serta dapat disenangi atau tidak membosankan untuk dibaca hingga hasil akhir tulisan.  Saya sadar terdapat banyak kekurangan dari tulisan saya dan menganggap menulis itu sebenarnya gampang bagi orang yang sudah terbiasa namun bagi orang baru atau pemula seperti saya, merasakan bahwa masih banyak kesulitan – kesulitan yang saya sering dapatkan pada saat ingin menuangkan pemikiran pengalaman saya dalam bentuk tulisan sehingga memang butuh banyak kegiatan pelatihan jurnalistik yang harus diikuti.   
 

Sabtu, 12 Maret 2016

Praktek Cerdas Nelayan Fair Trade, Melakukan Pencatatan Hasil Dari Melaut dan Mengisi Catatan Interaksi Hewan ETP yang Terjadi Pada Saat Nelayan Melaut.

Oleh: Syainullah Wahana, S.Pi, M.Si

Desa Waprea, 13 Maret 2016. Kabupaten Buru. Muluku.



Indonesia memiliki banyak sumberdaya nelayan yang memenuhi standar perdagangan adil yang kini terkenal dalam pasar global dan sebagian besar mereka telah terdaftar menjadi anggota nelayan Fair Trade, keaktifan mereka sebagai nelayan yang tersertifikasi Fair Trade merupakan aktifitas perdagangan yang sama-sama menguntungkan kedua bela pihak dalam melakukan aktifitas jual beli, sehingga ketika para konsumen membeli sebuah produk label bersertifikasi Fair Trade maka mereka mengetahui bahwa para nelayan dan pekerja yang menghasilkannya mendapat imbalan yang adil untuk kerja keras mereka. Salah satu wilayah yang menjalankan program tersebut berada pada kawasan Indonesia timur Kabupaten Buru, Maluku. Pencapaian mereka memperlihatkan hasil positif untuk lingkungan sosial dan kesejahteraan mereka yang meningkat selama bergabung dan terdaftar sebagai nelayan Fair Trade. Selama program Fair Trade terus berjalan pada lingkungan masyarakat nelayan mereka konsumen para pembeli produk hasil tangkapan dari nelayan Fair Trade akan terus merasakan manfaat dari kehadiran program Fair Trade di lingkungan nelayan kecil yang ramah lingkungan dan menilai nelayan yang terdaftar sebagai anggota nelayan Fair Trade mendapatkan harga dan upah yang lebih baik, kondisi kerja yang lebih aman, perlindungan lingkungan, dan tambahan premium yang secara langsung ke lingkungan nelayan Fair Trade itu sendiri, distribusi dana premium ke kelompok nelayan Fair Trade terlihat secara nyata baik dalam bidang pendidikan, program perbaikan bangunan atau jalan stapak desa di lingkungan nelayan Fair Trade, pelayanan kesehatan, pengadaan air bersih, ataupun pemenuhan kebutuhan nelayan Fair Trade ketika melaut yaitu seperti pengadaan GPS, Pisau Loin dan Jacket Pelampung atau obat-obatan untuk keselamatan pertolongan pertama pada saat terjadi kondisi yang tidak diinginkankan pada saat di laut.

Saya adalah salah satu staff MDPI yang telah di kontrak dan bekerja mulai bulan Oktober 2015 hingga sekarang Maret 2016, melihat secara  langsung proses program premium Fair Trade dapat berjalan dengan baik di wilayah kerja Pulau Buru bagian Utara, memastikan praktek pengelolaan perikanan berkelanjutan diterapkan dengan benar untuk menggambarkan stok ikan, memastikan saran penangkapan mematuhi pedoman keberlanjutan dan pencegahan serta berusaha mensukseskan beberapa program lainnya yang sedang berjalan di wilayah kerja Buru Utara. 



Beberapa staff MDPI bertanggung jawab mengumpulkan dan melaporkan data sampling mereka (Staff Sustainability Fasilitator). Proses pengumpulan data untuk perikanan Handline Skala Kecil dikembangkan oleh Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) dan program IMACS di bawah naungan USAID. Seperti inilah kinerja staff MDPI program sustainability, melakukan sesuai standar operasi pendataan yang meliputi berbagai aspek dari proses pengumpulan data, mereka melakukan pencatatan form sampling pengukuran hasil tangkapan nelayan dan wawancara aktifitas nelayan pada saat melaut hingga pulang melaut. Di beberapa tempat pendaratan kapal nelayan Fair Trade Mereka melakukan sampling dan menganalisis keberlanjutan sumberdaya ikan tuna sebagai tangkapan utama (Ukuran ikan <10 Kg / >10 Kg) dan ikan tangkapan lainnya untuk dapat konsumsi, memberikan kemudahan nelayan untuk mendapatkan informasi stok tangkapan mereka dan memaksimalkan keuntungan yang mempertimbangkan batas-batas ekologis, menjelaskan bagaimana sumberdaya laut itu harus tetap terjaga kelestariannya sehingga ikan laut selalu ada dan dikemudian hari kelak ikan tidak terjadi overfishing akibat tangkapan nelayan yang terus meningkat sehingga tercapainya keberlanjutan yang diperlukan untuk sertifikasi ramah lingkungan yang nantinya meningkatkan daya saing di pasar global.  Pemerintah, Para peneliti, atau pengelola perikanan kelak mempergunakan informasi untuk memantau kepatuhan pada peraturan yang telah ditetapkan sehingga membantu pelaku industry perikanan tangkap menghasilkan produksi yang berkelanjutan. 


Beberapa Program lain yang kini berjalan cukup lama membutuhkan pendampingan terus menerus oleh staff lapangan yang kemudian selalu bersama nelayan dimana secara langsung mendampingi proses distribusi bantuan premium kepada anggota kelompok nelayan Fair Trade, proses pendampingan kepada nelayan Fair Trade dalam memantau penandaan ikan dan turut berperan serta secara langsung dalam memberikan pemahaman kepada nelayan agar menjaga kualitas produk ikan tuna dan ikan tangkapan lain dapat selalu tetap aman untuk di konsumsi. Nelayan Fair Trade merasakan langsung kondisi kerja, klayakan hidup yang aman dan harga yang adil untuk hasil kualitas ikan yang bagus dimana para nelayan dapat menggunakan premium perdagangan yang adil untuk berinvestasi dalam program peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan itu sendiri.

Salah satu pencapaian atas kehadiran dan dikenalnya nelayan Fair Trade pada dunia pasar global yaitu dimana mereka harus melakukan atau menerapkan pencatatan bila mana adanya interaksi hewan ETP pada saat mereka melaut dan kemudian mencatat hasil tangkapan mereka itu sendiri setelah pulang melaut atau menangkap ikan karena tuntutan sebagai anggota Kelompok Fair Trade yaitu dengan mengikuti kriteria perdagangan yang adil meliputi pengelolaan sumberdaya yang bertanggung jawab dan perlindungan ekosistem. Kehidupan kelompok nelayan Handline wilayah buru utara sangatlah penting akan sumberdaya ikan Tuna yang kini meningkatkan perekonimian mereka, selain mempertahankan mutu kesegaran ikan diatas kapal hingga ketempat pendaratan ikan, kini mereka juga makin dikenal dalam perdagangan adil, baik di dalam negeri maupun luar negeri juga karena keaktifannya melakukan pendataan sendiri, melakukan pelestarian lingkungan dan perlindungan biota laut yang hampir terancam punah. Dampak positif akan program tersebut membantu nelayan mengetahui informasi akan pentingnya pengelolaan sumberdaya ikan laut yang berkelanjutan.   

Aktifitas penangkapan ikan oleh nelayan yang mengabaikan jenis ikan hewan ETP atau hewan yang dilindungi dan terancam punah akan membuat ekosistem dibawah laut tidak seimbang karena ketika ada beberapa hewan tersebut terancam punah dan hilang dari perhatian kita maka jaringan rantai makanan akan terputus dan akan sangat mempengaruhi sistem rantai makanan ikan di laut. Hewan – hewan ETP ini jika bukan nelayan yang mengambil alih pendataan tersebut maka akan sangat sulit memastikan data penangkapan hewan ETP yang terjadi dilaut, sehingga memang seharusnya kelompok nelayan Fair Trade kini harus sangat berperan aktif untuk dapat merealisasikan pendataan dilapangan secara langsung karena merekalah peran utama dalam aktifitas penangkapan ikan, nelayan melakukan pencatatan interaksi beberapa hewan ETP tersebut karena merekalah nelayan yang sering mendapatkan atau melihat itu secara langsung bagaimana interaksi tersebut terjadi pada saat melaut.

Pendataan hewan ETP yang dilakukan oleh kelompok nelayan Fair Trade dimana selain memastikan ikan hewan ETP apa saja yang tertangkap oleh nelayan, pendataan juga sangat penting untuk memenuhi standar pencapaian program Fair Trade dalam memberikan pemahaman secara langsung kepada nelayan terhadap jenis hewan yang betul-betul harus dijaga dan hewan yang sudah harus dilindungi.

Untuk itu Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia telah berusaha memberikan acuan program tersebut terlebih dahulu oleh staff MDPI di kantor MDPI yang beralamatkan di Ambon dimana telah didiskusikan bersama dengan beberapa staff lapangan agar pemahaman nantinya begitu jelas ketika staff lapangan menjelaskan ke kelompok nelayan sehingga pada saat itu staff lapangan lebih terarah ketika berdiskusi bersama kelompok Nelayan. Pencapaian kegiatan pendampingan di lapangan nantinya dapat mengaktifkan kelompok nelayan Fair Trade dalam mengerjakan atau mengisi form catatan ETP nelayan dan catatan aktifitas nelayan Fair Trade sehingga selalu terus aktif diisi oleh nelayan.

Selasa, 19 Mei 2015

Minggu, 03 Mei 2015

Takkan Ada Pemberdayaan Kekal dan Berkelanjutan di Pangkep Tanpa Melibatkan Perempuan

Oleh: Syainullah Wahana, S.Pi

Menulis untuk mengkisahkan perjuangan perempuan untuk melakukan kegiatan pemberdayaan dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya manusia.


Perempuan mengilhami sebuah pergerakan yang bekerja bersama dalam membangun sebuah desa atau wilayah, mengukir keindahan yang begitu khas dan mempesona di setiap pergerakan dan usaha – usahanya untuk dikenal dalam berbagai kehidupan di dunia. Berdampingan dengan kelompok laki-laki dengan begitu banyaknya permasalahan kualitas sumberdaya manusia. Penulis begitu sering mengamati keadaan wilayah pesisir yang begitu luas wilayahnya di Indonesia, pengamatan penulis yaitu salah satunya adalah perempuan di wilayah pesisir, mereka begitu semangat ketika diberi waktu untuk berbaur bersama kelompok untuk mengelolah sumberdaya pesisir diberbagai daerah karena mereka merasa perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan dalam kemiskinan.

Perempuan begitu semangat dalam mengontrol sumberdaya alam pesisir, yang salah satunya adalah rumput laut. Perempuan yang menjadi anggota kelompok sebagian besar adalah istri nelayan dan janda yang masuk dalam kategori rentan. Dengan mengelolah bantuan yang digulirkan dari pemerintah, mereka bisa melaksanakan sebagai peran produksi yang sangat baik. Kini dengan adanya modal bantuan maka ekonomi keluarga pun meningkat, dan berdampak positif untuk keberlangsungan kehidupan keluarga.

Perempuan sangat aktif dalam berbagai pelatihan pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir, mendorong mereka untuk lebih percaya diri berpendapat dan mengutarakan gagasannya, hasil dampak positifnya yaitu dimana perempuan bisa mengakses dan mengontrol sumber daya pesisir, sehingga mereka bisa mandiri dan lebih berdaya lagi.

Sampul Kabar Pesisir Januari 2015, Oxfam Area Indonesia Timur
Diusai permasalahan wilayah pesisir yang memberikan peran khusus terhadap perempuan didalamnya untuk bekerjasama menyelesaikan permasalahan wilayah sumberdaya pesisir, penulis kini bercerita sedikit mengenai apa yang telah dibaca pada sebuah majalah kabar pesisir yang menjelaskan seorang tokoh inpirasi perempuan yang berjuang menghidupkan lahan tidur untuk dapat menjadi produktif serta memberikan contoh hidup sehat dengan bercocok tanam sayuran organik bersama kelompok masyarakat, dia bernama Sitti Rahma, Ketua Kelompok Pita Aksi yang berkegiatan dalam budidaya tanaman organik di desa Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang, kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dikediamannya Siti Rahma setiap hari menikmati kegiatannya di pagi dan sore hari dengan menyiram tanaman organik di pekarangan rumahnya yang begitu cukup luas, yang disulap dengan berbagai aneka tanaman sehat seperti tomat, sawi, bayam, kangkung, seledri, kacang tungga, daun bawang, cabe rawit, cabe hijau, kacang tanah, dan juga tanaman obat keluarga. Tanaman itu disusun dengan begitu rapi sehingga pengunjung atau masyarakat yang tertarik untuk melihatnya dapat nyaman di lingkungan pekarangan rumah ibu Sitti Rahma. Ini adalah salah satu contoh wanita yang mempunyai hak untuk berekspresi di halaman rumahnya yang membuat perubahan ke hal yang positif dan baik bagi kehidupan keluarga sehat mereka. Menciptakan sebuah keindahan untuk orang lain dan bermanfaat baik untuk di contohi bagi seluruh perempuan Indonesia.



Sitti Rahma Sedang Bercocok Tanam, Publikasi Foto Kabar Pesisir Januari 2015, Oxfam Area Indonesia.


Beralih ke dunia pendidikan, penulis mendapatkan sebuah berita inspirasi dari seorang perempuan Indonesia yang bernama Syarifah, dia adalah seorang guru sekolah dan dapat dikatakan pejuang kelompok perempuan yang berada dilingkungannya. Begitu sangat sibuk menggerakkan beberapa perempuan, dia berkunjung di setiap rumah – rumah untuk bercerita dengan ibu – ibu rumah tangga untuk tidak hanya bergantung di pundak suami, mengajari orang – orang yang bahkan tak kenal huruf dan angka untuk belajar berorganisasi. Kesehariannya Syarifah mengajar di sebuah madrasah swasta, berpenghasilan cukup yang hanya sebagai guru honorer, sedangkan dalam aktifitasnya di rumah Syarifah membantu suaminya untuk menyiapkan jaring alat tangkap kepiting dan udang. Kegelisahannya yang kini begitu berbaur dengan semangatnya untuk melakukan perubahan dalam meningkatkan taraf hidupnya, membuat Syarifah terpilih sebagai ketua kelompok organisasi warga dalam usaha perbaikan ekonomi masyarakat dusun Kekean, Tamarupa, Mandalle, Pangkep. Dengan usahanya itu yang berkeliling untuk mengajak perempuan maka terbentuklah kelompok usaha rumput laut “Kalaroang”. Di awali dengan dasar – dasar berorganisasi hingga ke praktik – praktik pengembangan usaha, maka dengan kelompok yang didirikannya bersama masyarakat juga dengan lembaga masyarakat swadaya yang membantuannya kini sudah mandiri dan berjalan dengan baik yang berhasil meningkatkan pendapatan rumah tangga anggotanya sebesar 1-2 juta per bulan.    

Syarifah Bersama Kelompok Pemberdayaan Perempuan Pangkep, Kabar Pesisir Januari 2015, Oxfam Area Indonesia Timur

Belajar dari beberapa kelompok Perempuan Inspirasi di Pangkep, dalam hidup dan kesehariannya dengan apa yang bisa diberikan demi lingkungannya. Penulis mengajak seluruh perempuan Indonesia harus tetap berekspresi, menjaga nilai-nilai berbudaya, moral, memiliki hati bersih dengan pikiran – pikiran positif dibenaknya dan totalitas yang semaksimal mungkin untuk terus berupaya menjadi lebih baik lagi. Berharap dengan perubahan buat kita ataupun untuk generasi wanita – wanita Indonesia kedepannya.

Sumber Ringkasan Tulisan:
Oxfam. 2015. Kabar Pesisir “Restorasi Penghidupan Pesisir”. Buletin Area Indonesia Timur. Makassar.

Jumat, 01 Mei 2015

MASYARAKAT NELAYAN DAN LAUTANNYA

 

Oleh: Syainullah Wahana, S.Pi

Rakyat yang begitu peduli dengan lautnya, namun ada yang begitu sering merusak lautnya. Banyak yang menuduh nelayanlah dalangnya, mereka begitu berkoar-koar menyerukan bahwa nelayanlah yang merusak laut dengan bom, bius, atau menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan untuk menangkap ikan yang begitu melimpah di bawah laut. Kadang penulis merasa itu adalah sebuah himbauan yang memaknai bahwa nelayan kita tidak memiliki hati dan perasaan dalam mencari sesuap nasi bagi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga mereka. Begitu burukkah potret nelayan kita?

Tak pernah kita pungkiri bahwasanya dunia nelayan yang penuh terjangan ombak di saat mereka berlayar mengayuh kapal di tengah lautan demi sesuap nasi. Mencari ikan yang banyak membuat keluarga mereka sangat senang karena telah memberikan lebih nafkah keluarga yang menantinya di daratan pulau.

Anak-anak pulau begitu bergembira bermain di pesisir pantai, bersama menikmati waktu. Cinta keluarga itu penuh harapan yang begitu kuat walaupun bapaknya yang sedang melaut entah bagaimana kabarnya. Ibu yang terus memasak yang memberikan anaknya makanan layak dan bergizi untuk anaknya, dan terus berdoa untuk suami tercinta yang sedang mencari banyak ikan di tengah lautan berharap tanpa merusak rumah ikannya.

Dok. Pribadi Penulis
Sekelompok Anak Nelayan Lagi Bermain di Pesisir Pantai, Pulau Badi  (Dok. Pribadi Penulis)


  















Mereka bercanda bersama, menuangkan kreativitasnya di pasir putih pesisir pantai. Berharap cita - cita mereka terwujud, menggapai mimpi setinggi-tingginya, hasrat yang begitu kuat untuk bisa kembali lagi ke pulau mereka jika telah sukses menempuh impian mereka masing - masing. Jadilah seorang penyelamat nelayan jika engkau besar nanti karena dirimu besar di daratan pulau kecil yang unik, begitu melimpah sumberdaya alam anugera Tuhan, kami butuh calon - calon penerus bangsa penyelamat masyarakat nelayan yang dirusak namanya karena menangkap ikan dengan tidak ramah lingkungan

Semangat itu membara, ayah yang penuh tanggung jawab besar agar anaknya nanti bisa menjadi orang yang sukses dan di hormati bagi seluruh rakyat, penuh dengan kenangan yang indah di saat itu, melakukan pemberdayaan masyarakat tanpa kenal lelah. Menjadi penjuang nelayan yang tangguh gagah berani mempertahankan tanah air pulau tempat mereka dilahirkan. Pengelolah sumberdaya perairan laut yang adil dan makmur, bijaksana dalam bersikap. Menerangi setiap langkah masyarakat pulau menuju kesejahteraan yang mandiri dan kuat di saat menerjang ganasnya lautan dan banyaknya politik kotor, serta penjahat - penjahat yang merusak nama baik nelayan.

Ini hanyalah sebuah tulisan, yang mungkin tidak teratur. Namun penulis membuat ini, untuk menuangkat hasrat nelayan yang ingin berharap keluarganya dapat memaknai hidup yang begitu keras di lautan sana, namun tekad itu terus ada untuk istri dan anaknya tercinta, generasi penerus bangsa yang berpendidikan dan bisa merajai lautan biru cerah.

Penumpang Kapal Menuju Pulau Badi Kepulauan Spermonde Makassar (Dok. Pribadi Penulis)

 

Festival Pasar Rakyat Lambocca Bantaeng “Pasar Sejahtera” Menarik dan Kreatif


Berita kunjungan telah diinformasikan sebelumnya di “Blog Kompasiana”, serangkaian acara akan diadakan, tidak ingin melewatinya para “Kompasianer Sulawesi selatan” bersegerah melakukan registrasi kunjungan acara “Festival Pasar Rakyat” di Pasar Lambocca, Bantaeng pada hari Senin, 27 April 2015. Para kompasianer barengan bersama Kevin Anandhika Legionardo (Kompasiana Content dan Community Officer) dan Dieki Setiawan (Marcomm Executive Kompasiana)  dengan dari beberapa “Kompasianer yang berada di Makassar”, ada juga yang sudah menetap berada di Bantaeng, seakan menunggu kedatangan teman kompasianer untuk NguBar (Ngumpul Bareng) dan NgoBar (Ngopi Bareng) bersama setelah acara festival. Dini hari Pukul 03.00 wita, penulis dan rekan lainnya sebagai tim “Kompasianer Sulawei Selatan” beserta Tim Kompasiana dari Jakarta” berangkat menuju Bantaeng dari bandara Hasanuddin Makassar dengan mobil mini bus yang telah disiapkan oleh tim kompasiana sebelumnya. 

Senin pagi yang cerah 27 April 2015, disambut dengan suara gemuru pantai yang akan terlihat pemandangan laut dari jalan poros Makassar – bantaeng yang kami lalui, lingkungan bersih dan udara angin segar terasa dari jendela mobil kami, masyarakat bantaeng yang sibuk dengan berbagai aktifitas mereka di halaman rumah mereka masing-masing, mereka seakan ingin menyelesaikan semuanya sesegera mungkin dan bersegera menuju pasar Lambocca. Pasar ini tidak seperti pasar yang biasa kami lihat di berbagai pasar yang penuh dengan sampah yang berserakan di lingkungan pasar, ketidakteraturan tempat jualan, kotor, dan aroma bau yang tak sedap menyengat, sehingga membuat kita makin tidak tertarik ke pasar tradisional tersebut. 

Sangat berbeda sekali dari beberapa pasar tradisional yang penulis telah kunjungi sebelum – sebelumnya di wilayah Sulawesi Selatan, suasana pasar rakyat tradisonal modern tersebut yaitu di pasar tradisional Lambocca Kabupaten Bantaeng ini. Begitu meriahnya pasar di pagi hari itu, sehingga masyarakat sangat yakin berbelanja tanpa ragu, hari itu adalah hari dimana masyarakat pasar akan mendapat kunjungan dari pimpinan pemerintah daerahnya yaitu sebuah sosok pemimpin yang dikagumi masyarakat bantaeng dan sekitarnya, mereka mengakui kerja kerasnya dalam membangun Kabupaten Bantaeng ini, diawal masa kepemimpinannya hingga sekarang. Semua bersama – sama memeriahkan acara festival pasar rakyat, berbelanja perlengkapan kebutuhan sehari – sehari masyarakat, belanja bahan makanan, ada juga berbagai kemeriahan warga bantaeng yang mengikuti perlombaan meriah di selah-selah acara yang memperlihatkan salah satu program percontohan pasar tradisional di Indonesia, SEJAHTERA itu singkatan dari Sehat, Bersih, Hijau, dan Terawat. Merupakan Program kegiatan dari “Yayasan Danamon Peduli” didukung dengan kerjasama “Pemerintah Daerah Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan” yang mencanangkan sebuah perubahan pasar tradisional menjadi modern dan tak merubah makna dari kata pasar tradisional tersebut. Gerakan bersih, sehat, hijau lestari, dan terawat adalah sebuah kegiatan yang patut dicontohi dari beberapa wilayah, memberikan penghargaan bagi setiap daerah yang ingin memulai dengan konsep serupa. 

Tim Kompasianer Sulawesi Selatan dari awal sampai ke lokasi pasar Lambocca Bantaeng, mengikuti seluruh rangkaian acara festival dan melihat itu sebagai kegiatan yang berbeda dari kesehariannya. Sebagai penulis, patut kita sadari bahwa sebuah publikasi yang seperti ini sangat baik untuk disebarluaskan dalam media sosial dan dapat dilihat sebagai contoh program terbaik bagi masyarakat daerah dan ini menjadi pengalaman tersendiri bagi penulis, juga bagi seluruh Kompasianer Indonesia, dapat menceritakan pengalaman akan keunggulan wilayah daerahnya masing – masing dalam berbagai aktifitas menciptakan suasana meriah dari pasar tradisional mereka. Bersama yayasan Danamon Peduli yang di wakili oleh ibu Restu Pratiwi (Ketua dan Direktur Eksekutif  Yayasan Danamon Peduli) dan dilanjutkan dengan sambutan dari bapak Dalman Mangiri (Regional Corporate Officer Danamon untuk Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua) turut senang dan mendukung secara penuh acara ini. Program – program Yayasan Danamon Peduli bertujuan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan yang bermanfaat langsung pada masyarakat dan melibatkan relawan dari lingkungan keluarga besar Danamon. Dengan melaksanakan Program Pasar SEJAHTERA dari Yayasan Peduli Danamon ini, maka masyarakat bisa bekerja maksimal dengan melakukan aktifitas bersih – bersih terlebih dahulu disekitaran lingkungan pasar sebelum pedagang menjajahkan barang dagangan mereka atau aktifitas jual beli yang akan berlangsung. Bersama Pemerintah Daerah, Yayasan Peduli Danamon dan pihak – pihak terkait yang mendukung kelancaran kegiatan ini yakni mengadakan berbagai lomba-lomba, seperti lomba memasak antar pedagang, melukis tong sampah untuk pelajar sebagai generasi pelanjut akan cinta lingkungan dan dapat menjaga kelestarian lingkungan, acara panggung hiburan rakyat dari arah gerbang pintu depan masuknya pasar dan bazar dari usaha kelompok masyarakat lokal bantaeng, diikuti dengan acara lainnya yang juga tak kalah memeriahkan pasar tradisional lambocca di pagi hari itu, seorang chef terkenal hadir dan berbaur keliling melihat tim lomba masak antar pedagang, juga memperlihatkan keunggulannya memasak sajian makanan di depan seluruh masyarakat, bersama pemerhati kuliner lainnya, terlihat juga bapak Arief Parikesit (Relawan Setia Pasar Rakyat) yang berbaur dengan masyarakat. 

Selanjutnya, penulis mencoba mengingat kembali dan memahami arah pembicaran ibu Dr. Ekowati Rahajeng SKM, M.Kes (perwakilan dari Kementerian Kesehatan) yang juga telah memberikan sambutan kepada warga pasar di festival pasar rakyat lambocca, dari beberapa kunjungannya di acara Festival Pasar Rakyat Tradisional, mengungkapkan kesenangannya berkeliling di pasar – pasar tradisional dan kini di Bantaeng, dia melihat dari beberapa masyarakat lokal mengabdikan dirinya sebagai petugas relawan kebersihan pasar lambocca, maka dengan itu pasar tersebut dapat terlihat bersih dan sehat setiap hari. Ketertarikan pasar ini makin lebih terlihat pada saat ibu Dr. ekowati meresmikan bagian “Los Basah” pasar lambocca yang disaksikan oleh bapak Bupati Bantaeng, bersama kelompok masyarakat yang datang untuk menghadiri acara peresmian ini yang terlihat begitu rapih tata letak tempat berjualan ikan dan terlihat kebersihan pasar bagian los basah tersebut. Nampak, tak ada air bekas pencucian ikan dan daging basah lainnya yang tertinggal di saluran pembuangan dan di lantai pasar yang tetap bersih tidak terlihat becek dan kotor, hal yang unik juga menarik perhatian penulis yaitu tidak ada air yang tertinggal di sekitaran lorong – lorong pasar akibat guyuran air atau hujan karena di setiap pinggiran setapak lorong pasar telah dibuatkan lubang-lubang biopori. Dalam Program “Hijau” biopori berfungsi mengurai genangan air akibat rembesan hujan dan membuat persediaan air di dalam tanah di saat musim kemarau panjang. Terdapat bangunan klinik sarana kesehatan di dalam pasar yang menjadikan pasar ini berbeda dari pasar lainnya, di sudut bangunan terdapat toilet yang bersih dan di jaga oleh petugas kebersihan pasar yang ramah senyum dan dapat menjamin kebersihan toilet pasar. Di ujung sudut kiri dari arah pintu masuk bagian pasar terdapat tong sampah besar yang agak berjauhan dari tempat jualan, sehingga tidak tercium bau aroma sampah pasar tersebut, sedangkan di ujung sudut kanan dari arah pintu masuk bagian pasar terbangun Masjid yang cukup luas untuk bagi warga islam bantaeng melaksanakan ibadah sholat 5 waktu dalam sehari.  

Tidak jauh dari jarak atas panggung di dalam bangunan tengah keramaian pasar. Penulis hadir sebagai komunitas blogger dan teman lainnya yang begitu aktif sebagai penulis di media sosial Kompasiana turut berpartisipasi, duduk bersama dengan seluruh kelompok masyarakat bantaeng dan juga tim kreatif yang telah hadir di acara ini, secara rapi dan teratur di dalam tenda teduh, di bawah pepohonan rindang. Bersama mendengarkan bapak Prof. Dr. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr (Bupati Bantaeng) berbicara mengenai perkembangan bisnis kreatif masyarakat di Kabupaten Bantaeng yang ditemani seorang pekerja senior kreatif Indonesia bapak Handoko Hendroyono yang baru saja meliris sebuah film layar lebar sebagai produser berjudul “Filosofi Kopi” ini juga turut hadir memeriahkan acara festival pasar rakyat, untuk menggali potensi kopi lokal Bantaeng yang menurut masyarakat lokal memiliki ciri khas tersendiri. 

Kesan penulis dari jelajah pasar tradisional tersebut, dengan para kompasianer ini sangat menarik. Jika kegiatan ini terus diperhatikan maka pemerintah, pedagang dan masyarakat baik kelas atas dan bawah akan terus berbaur dalam pasar tradisional ini, acara juga akan menciptakan suasana aman, sehat dan lestari. Kini masyarakat yakin bahwa tidak ada sekat – sekat lagi diantara sesama mereka, jalinan silaturahmi dan persudaraan makin dekat antar sesame, kelompok masyarakat dan dapat menciptakan lingkungan yang hijau dan bersih. Bisa jadi kegiatan seperti ini akan menjadi contoh dalam gerakan pemersatu bangsa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Begitu meriahnya acara hingga akhir acara festival ini, kemitraan juga terjalin di festival pasar rakyat dengan bergabungnya media social Kompasiana, serta beberapa perusahaan industri seperti Kecap Bango, Kelana Rasa, Pulpen PILOT dan MP Pro. Penulis berharap kegiatan ini diperhatikan sebagai kegiatan rutin masyarakat khususnya bagi warga bantaeng, menarik dan mengajak kalangan lainnya untuk membuat acara di festival pasar rakyat selanjutnya yang lebih meriah lagi kedepannya. 

Foto Bersama Kompasianer Sulawesi Selatan, Panitia Kompasiana, Bapak Bupati Bantaeng
Sumber: Ambae "Pertama dari Sebelah Kiri (Kompasianer SulSel) di Kantor Bupati Bantaeng.



Beberapa Kompasianer Sulawesi Selatan yang berada di kerumunan warga bantaeng, duduk sedang mengamati acara Festival Pasar Rakyat Lambocca Bantaeng
Sumber: Ambae (Kompasianer SulSel) di Kantor Bupati Bantaeng.


Foto Bersama Penerima Piagam dari Bupati Bantaeng, Dok. Pribadi Penulis